Toll Manufacturing di Indonesia
Cruises kami, Liberty of The Sea bersandar di Marseille (Perancis) jam 09.00 am, pagi ini acara Sailebration Conference di Studio B di Deck 3. Pintu studio sudah dibuka, tempat duduk model theater, ‘kontingen’ Indonesia dan India hampir sama banyak (lebih dari 200 orang), China mungkin setengahnya, Thailand, Pakistan, Vietnam, Myanmar, Srilanka dan Nepal jauh lebih sedikit, total 9 negara peserta hari itu. Studio ini memiliki lantai es didepan panggung, performance tari dan bahkan speech dari petinggi Oriflame dilakukan diatas lantai es alias sambil skating. Ramai acara-nya.

Niat saya sudah jelas, begitu selesai acara, saya ‘nyeruduk’ salaman dan ngobrol ke salah satu petinggi perusahaan direct selling yang memang posturnya juga lebih tinggi, Jesper Martinsson (Deputy Chief Executive Officer and Executive Vice President of Global Sales & Markets, Oriflame), langsung to the point karena ini five minutes advocacy, saya sampaikan “Mr. Jesper, could you have a Oriflame factory in Indonesia?”; pesan ini menurut saya sangat penting untuk disampaikan kepada para pengambil keputusan Oriflame di Swedia sana. Indonesia negara dengan kekayaan hayati dan tanah subur yang luas, sudah waktunya mereka membawa teknologi kesini, gunakan khasanah tumbuhan kita untuk membuat produk dengan kelas pasar domestik dan ekspor. Toll manufacturing sangat mungkin dibuat dibanyak Kabupaten di Indonesia ini, mereka tinggal memilih Pemerintah Kabupaten yang jujur dan cerdas, tidak korupsi, punya infrastruktur minimal untuk lalu lintas logistic yang efisien maka jadilah indutri toll manufacturing itu. Sebuah toll manufacturing yang baik tidak hanya akan menggunakan raw material local tetapi juga tenaga sumber daya lokal, rantai proses ini akan memberi manfaat ditingkat lokal. Begitu fikir saya. “Yes, we have the intention to have factory in Indonesia” ujar Jesper lirih.
Dalam kesempatan pertemuan di tahun berikutnya, di Paris Hilton Hotel London, saya menyampaikan hal yang sama ke Komisaris Oriflame Indonesia, Pak Fauzi, beliau menjelaskan bahwa sekitar 1997, Oriflame sudah memiliki rencana matang untuk bikin factory untuk produksi disini. Tetapi izin yang tak kunjung didapat ditambah datangnya krisis moneter maka business plan ini menjadi berantakan, produksi di pindah ke negara tetangga Asia lainya, meskipun pasar Oriflame di Indonesia relatif lebih besar dibanding dua negara tersebut, mereka lebih effisien perizinan, infrastructure, dll.
Kedepan negara-negara di Dunia memiliki tuntutan untuk produksi pada level yang efisien. Pasar bebas dan teori economy memang menghendaki produksi pada level yang sangat ekonomis untuk manfaat maksimal bagi customers.

Leave a Reply