Manneken Piss
Tidak jauh dari Amsterdam Central Station ada kawasan Damrak, jalan kesini perut sedikit bunyi, istri saya senang ‘kentang goreng’ , jadi nyoba dulu yang kelihatannya rame / laris, kentang goreng Manneken Pis, harganya saat itu sekitar 2 euro, bumbu top-up nya juga ada keju, coklat, dll. Istri saya penasaran dengan Manneken Pis ini, karena kelihatannya ini ikon dari Brussels bahkan Belgia. Kota-kota di Dunia pasti punya ikon menarik, Mekkah dengan Kaabah-nya, Madinah dengan Mesjid Nabawi-nya (keduanya bukan hanya ikon bangunan tetapi jauh lebih dari itu bermakna spiritual), Paris dengan ikon Menara Eifel-nya, New York dengan Patung Liberty atau Empire State Building-nya, dll. Bayangan kami pasti Manekin Pis ini sesuatu yang hebat, demikian pikir istri saya. Naiklah kami Bus Tour dari depan Damrak ini ke Belgia; tiba di Antwerp, menikmati beberapa sudut kota sebentar, lanjut dan turun di alun-alun Balaikota Brussels saat itu bulan November, perayaan Natal dan pergantian tahun sudah ramai di alun-alun Balai Kota Brussels.

Atraksi cahaya di gedung Stadhuis (balaikota) menarik warga kota untuk tumpah ruah disini. Permainan engrang dengan tiang yang sangat tinggi juga mengingatkan dulu kami main beginian di Bungku. Sejam hangout disekitar sini, Kami bertemu pengunjung berjilbab dengan wajah Melayu; kami sapa, tepat sekali, warga Indonesia yang mendapat beasiswa Master di Belgia. Kami ditunjukkan jalan ke Manneken Pis, hanya 5 menit dari Stadhuis van Brussels (balaikota) ketemulah spot ikon kota ini, di sudut jalan; ternyata cuman kecil banget ikon-nya; anak kecil yang ‘mengencingi’ orang-orang, bisa-bisanya anak kecil ngambek dengan perilaku nggak sopan ini menjadi ikon kota Brussels :). Ini contoh bagaimana branding bekerja; sesuatu yang sepele menjadi ‘besar’.

Leave a Reply